JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah Indonesia menyampaikan keprihatinan mendalam atas memburuknya situasi keamanan di Yaman bagian selatan yang kembali bergejolak sejak akhir Desember 2025. Eskalasi konflik dinilai berpotensi memperpanjang krisis kemanusiaan di kawasan tersebut.
Melalui pernyataan resmi yang disampaikan Kementerian Luar Negeri RI di platform X pada Kamis (8/1/2026), Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendorong penyelesaian konflik melalui jalur damai dan diplomasi.
Kemlu RI mengajak seluruh pihak yang terlibat agar menahan diri, menghindari kekerasan, serta mengutamakan dialog politik yang terbuka dan melibatkan semua unsur.
“Indonesia mendorong para pihak untuk berperan secara konstruktif, menahan eskalasi, dan mengedepankan dialog politik yang inklusif serta menyeluruh guna menyelesaikan perbedaan,” demikian pernyataan resmi Kemlu.
Indonesia juga memberikan apresiasi terhadap langkah Kerajaan Arab Saudi yang mengambil inisiatif diplomatik dengan memfasilitasi rencana konferensi perdamaian di Riyadh. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang pertemuan seluruh kelompok di Yaman selatan untuk merumuskan solusi politik yang adil dan berkelanjutan.
“Upaya Kerajaan Arab Saudi dalam memfasilitasi konferensi komprehensif di Riyadh yang melibatkan seluruh faksi di Yaman selatan disambut positif oleh Indonesia,” lanjut pernyataan tersebut.
Di lapangan, konflik Yaman selatan mencerminkan semakin renggangnya hubungan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), yang sebelumnya berada dalam satu barisan koalisi melawan kelompok Houthi. Serangan udara Saudi ke wilayah yang dikuasai Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) menjadi indikasi nyata perbedaan kepentingan antara Riyadh dan Abu Dhabi.
Puncak ketegangan terjadi pada 2 Januari 2026, ketika serangan udara menghantam kawasan al-Khashaa di Provinsi Hadramaut. Insiden tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai lebih dari 20 lainnya. Pemerintah Saudi menyebut wilayah itu sebagai jalur masuk pasokan senjata bagi STC yang diduga berasal dari UEA.
Situasi semakin kompleks setelah Dewan Kepresidenan Yaman yang didukung Saudi mengeluarkan keputusan resmi mencopot pemimpin STC, Aidarous al-Zubaidi. Ia dituduh melakukan pengkhianatan dan melarikan diri dari tanggung jawab politiknya.
Berdasarkan laporan intelijen Saudi, terdeteksi pergerakan besar pasukan yang berada di bawah komando al-Zubaidi dari Aden menuju Provinsi al-Dhale. Menyusul temuan tersebut, jet tempur koalisi melancarkan lebih dari 15 serangan udara pada Rabu (7/1/2026), yang dilaporkan menewaskan sedikitnya empat warga sipil.
Indonesia menilai dinamika ini menegaskan urgensi penyelesaian politik yang inklusif demi mencegah konflik semakin meluas dan menelan korban sipil lebih besar.














