JurnalPatroliNews – Jakarta – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menggelar agenda Outlook Penyelenggaraan Ibadah Haji 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, pada Kamis (8/1).
Pertemuan strategis ini membahas berbagai kesiapan mulai dari administrasi, layanan di Arab Saudi, hingga penguatan standar kesehatan dan kualitas sumber daya manusia petugas haji.
Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf menekankan pentingnya pengetatan screening kesehatan bagi calon jemaah haji.
Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi pemulangan jemaah oleh otoritas Arab Saudi jika ditemukan kondisi fisik yang tidak memenuhi persyaratan saat tiba di sana.
Menurut Irfan, masalah kesehatan jemaah Indonesia kerap menjadi perhatian serius pemerintah Arab Saudi, terutama terkait angka kematian jemaah selama masa operasional haji.
Irfan menjelaskan bahwa pengetatan ini bukan berarti standar kesehatan tahun lalu buruk, namun ada kendala dalam penerapannya sehingga jemaah yang secara medis kurang layak tetap bisa lolos berangkat.
Tahun ini, tim Pusat Kesehatan Haji telah diminta untuk memaksimalkan implementasi standar kesehatan guna memastikan jemaah benar-benar siap secara fisik dan mental sebelum menuju tanah suci.
Pemerintah Arab Saudi dikabarkan akan melakukan pemeriksaan acak atau random check terhadap kesehatan jemaah di bandara kedatangan.
Jika dalam pemeriksaan tersebut ditemukan jemaah yang tidak layak secara fisik, maka otoritas setempat akan langsung memulangkan mereka ke tanah air.
Menhaj menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga keselamatan jemaah dengan memastikan istithaah atau kemampuan kesehatan benar-benar terpenuhi.
Baginya, jauh lebih baik memastikan kelaikan jemaah sejak di Indonesia daripada membiarkan mereka berangkat hanya untuk dipulangkan setibanya di Arab Saudi karena risiko kesehatan yang tinggi.














