AI Bisa Menulis Berita, Tapi Tak Bisa Memahami Rasa: Tantangan Pers Masa Depan

Oleh: Dr. Bagus Sudarmanto, S.Sos., M.Si.

Perubahan dunia jurnalistik Indonesia datang bersamaan dengan krisis yang belum sepenuhnya pulih. Di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja, penutupan media lokal, dan melemahnya daya tawar redaksi, kecerdasan buatan (AI) hadir sebagai teknologi yang menjanjikan efisiensi sekaligus memicu kecemasan.

Mesin AI kini tidak lagi sekadar membantu kerja jurnalistik, tetapi mulai ikut memproduksi berita dengan skala dan kecepatan yang sulit disaingi manusia.

Fenomena ini sejatinya bukan hal baru di tingkat global. Sejak awal 2010-an, kantor berita internasional telah menggunakan sistem otomatis untuk laporan berbasis data. Praktik ini dikenal sebagai automated journalism, fase awal ketika algoritma mulai mengambil alih sebagian fungsi penulisan.

Namun, dalam konteks Indonesia, situasinya jauh lebih kompleks. AI masuk ketika ekosistem media sedang rapuh secara ekonomi dan terdisrupsi oleh platform digital.

Runtuhnya model bisnis media cetak membuat redaksi kehilangan posisi dominan sebagai penjaga gerbang informasi. Fenomena gatekeeping tradisional telah bergeser menjadi gatewatching, di mana jurnalis lebih sering memantau arus informasi yang dibentuk oleh algoritma media sosial.

Masalahnya, algoritma bekerja atas dasar keterlibatan dan klik, bukan kepentingan publik. Hal ini memicu gejala churnalism, yaitu jurnalisme instan yang miskin verifikasi akibat tekanan ekonomi redaksi. Kehadiran AI berpotensi mempercepat pola ini melalui produksi konten berbasis tren tanpa pendalaman.

Di sisi lain, AI menawarkan solusi pragmatis untuk analisis data dan penelusuran dokumen. Namun, perlu diingat bahwa algoritma tidak pernah netral karena membawa bias dari data dan desain pembentuknya.

Risiko lain yang kian nyata adalah disinformasi visual melalui teknologi deepfake yang berpotensi meruntuhkan kepercayaan publik terhadap bukti digital. Di tengah literasi media yang belum merata, manipulasi ini dapat memperdalam krisis kepercayaan terhadap media arus utama.

Situasi ini menunjukkan bahwa pers Indonesia harus beradaptasi bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal orientasi praktik jurnalistik. Genre jurnalistik lama seperti straight news tidak lagi cukup menghadapi banjir konten otomatis.

Dibutuhkan genre baru yang menempatkan AI hanya sebagai alat bantu dalam jurnalisme data dan investigasi, sementara jurnalis tetap memegang tanggung jawab atas interpretasi dan konteks sosial.

Jurnalisme Indonesia perlu kembali menegaskan sisi yang tidak dapat direplikasi mesin, yakni empati terhadap warga dan keberanian mengawasi kekuasaan. Loyalitas utama jurnalisme adalah kepada warga negara, bukan kepada algoritma.

AI mungkin bisa menulis berita, namun teknologi tersebut tidak memahami ketimpangan sosial dan tidak memikul tanggung jawab etis. Hari Pers Nasional 2026 harus menjadi momentum refleksi untuk merumuskan arah jurnalisme yang sadar teknologi namun tetap kuat secara etika, sehingga AI tidak menjadi ancaman eksistensial, melainkan alat untuk memperkuat nalar publik.