JurnalPatroliNews – Bandung – Kementerian Koperasi (Kemenkop) memperkuat komitmennya dalam mendorong pertumbuhan Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) sebagai pilar ekonomi berbasis umat.
Dalam kunjungan kerjanya di Bandung, Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) Faridah Farichah menekankan pentingnya sentuhan teknologi digital agar koperasi di lingkungan pesantren mampu meningkatkan kualitas layanan dan daya saing di era modern.
Dalam sambutannya pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke-31 Kopontren Daarut Tauhid, Selasa (3/3/2026), Wamenkop Farida menjelaskan bahwa nilai-nilai koperasi sejalan dengan prinsip Islam yang mengedepankan gotong-royong dan kebersamaan.
Menurutnya, Kopontren memiliki potensi besar sebagai motor ekonomi komunitas yang inklusif dan berkelanjutan.
Berdasarkan data terkini, Indonesia memiliki sekitar 42.000 pondok pesantren, namun baru sekitar 6.000 di antaranya yang telah memiliki Kopontren.
Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi pemerintah untuk mengintegrasikan program prioritas, seperti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, ke dalam ekosistem pesantren guna memperluas jangkauan kesejahteraan masyarakat.
Wamenkop Farida menggarisbawahi bahwa literasi digital menjadi faktor krusial dalam memperkuat struktur koperasi.
Pemerintah menjanjikan penguatan pendampingan serta kemudahan akses permodalan, namun pengelola Kopontren juga dituntut untuk adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Digitalisasi dinilai bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan untuk menciptakan tata kelola yang transparan, profesional, dan akuntabel.
Di lokasi yang sama, pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhid, KH. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, memberikan perspektif mengenai esensi keberkahan dalam berkoperasi. Ia menegaskan bahwa koperasi bukan sekadar tempat transaksi finansial, melainkan sarana pembangunan karakter dan akhlak.
Bagi Aa Gym, keberhasilan sebuah koperasi diukur dari perubahan perilaku anggotanya menjadi pribadi yang lebih baik serta kemampuannya memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Kopontren Jawa Barat, Komarudin Chalil, memaparkan data tahun 2025 yang menunjukkan bahwa di Jawa Barat terdapat 12.755 pondok pesantren dengan 1.756 unit Kopontren.
Beberapa di antaranya, seperti Kopontren Daarut Tauhid dan Al-Ittifaq, telah menjadi rujukan nasional dalam model pemberdayaan ekonomi umat.
Melalui momentum ini, pemerintah berharap Kopontren di seluruh Indonesia dapat meneladani model pengelolaan profesional yang mensinergikan aspek muamalah dengan nilai-nilai akhlakul karimah.
Dengan sentuhan teknologi digital dan manajemen yang istikamah, Kopontren diproyeksikan menjadi jalan barokah yang menggerakkan ekonomi nasional dari akar rumput.














