Tak Hanya Minyak, Lumpuhnya Selat Hormuz Ancam Pangan Dunia


JurnalPatroliNews – JAKARTA — Dampak konflik yang melibatkan Iran tak hanya mengguncang pasar minyak dan gas, tetapi juga mulai mengancam ketahanan pangan global. Gangguan di Selat Hormuz kini berimbas pada distribusi pupuk dunia yang menjadi kunci sektor pertanian.

Selat Hormuz selama ini merupakan jalur vital perdagangan global, termasuk untuk distribusi pupuk. Sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia yang dikirim melalui jalur laut melintasi kawasan tersebut. Namun sejak konflik memanas, lalu lintas kapal di wilayah itu nyaris terhenti, bahkan sejumlah kapal dilaporkan mengalami serangan.

Gangguan tersebut langsung memukul rantai pasok pupuk global. Harga urea, sebagai pupuk nitrogen utama, melonjak tajam dari kisaran 400–490 dolar AS per metrik ton sebelum konflik menjadi sekitar 700 dolar AS. Lonjakan ini mencerminkan rapuhnya sistem distribusi global ketika jalur utama terganggu.

Kawasan Timur Tengah sendiri merupakan salah satu pusat produksi pupuk terbesar dunia, dengan negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, Bahrain, dan Iran menjadi pemasok utama. Ketika distribusi melalui Selat Hormuz tersendat, sekitar 30 persen pasokan ekspor pupuk dunia praktis hilang dari pasar.

Analis CRU, Chris Lawson, menegaskan besarnya dampak gangguan tersebut terhadap perdagangan global.

“Dengan terputusnya Selat Hormuz, sebagian besar perdagangan global tidak dapat berjalan saat ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, sekitar 30 persen perdagangan urea global berasal dari kawasan yang kini terdampak langsung. Menurutnya, gangguan rantai pasok pupuk memiliki efek tertunda, namun signifikan.

“Jika petani tidak mendapatkan urea yang mereka butuhkan, hasil panen pasti akan turun,” katanya.

Kekhawatiran meningkat karena pupuk nitrogen tidak bisa ditunda penggunaannya. Berbeda dengan jenis pupuk lain seperti potash atau fosfat, nitrogen harus diberikan setiap musim tanam agar hasil optimal. Tanpa pasokan memadai, produksi komoditas penting seperti jagung, gandum, dan sayuran dipastikan menurun.

Selain urea, komoditas lain seperti amonia dan belerang juga terdampak. Bahkan hampir setengah perdagangan global belerang berasal dari kawasan Timur Tengah, sehingga gangguan ekspor secara bersamaan memperbesar tekanan pasar dibanding krisis sebelumnya.

Situasi diperparah oleh gangguan produksi di sejumlah fasilitas energi di kawasan tersebut, serta keterbatasan kapasitas penyimpanan yang menghambat distribusi. Di saat bersamaan, China sebagai salah satu eksportir besar pupuk juga membatasi ekspor demi memenuhi kebutuhan domestik, sehingga memperketat pasokan global.

Meski stok pangan global saat ini masih relatif aman berkat cadangan yang tersedia, para analis memperingatkan dampak jangka menengah yang serius. Penurunan hasil panen, meskipun kecil, berpotensi memicu lonjakan harga pangan, terutama di negara berkembang.

Wilayah seperti Afrika dan Asia Selatan menjadi yang paling rentan terhadap dampak ini. Negara dengan daya beli rendah cenderung berada di posisi terakhir dalam mendapatkan pasokan ketika harga melonjak.

Dalam kondisi tersebut, krisis pupuk tak lagi sekadar persoalan sektor pertanian, melainkan telah berkembang menjadi ancaman nyata bagi ketahanan pangan global.