JurnalPatroliNews – JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit pada akhir perdagangan sesi I, Jumat, 22 Mei 2026, setelah sempat mengalami tekanan tajam di awal perdagangan hingga menembus area psikologis 6.000.
Menutup perdagangan sesi siang, IHSG menguat 18 poin atau 0,30 persen ke level 6.113. Penguatan tersebut sejalan dengan pergerakan mayoritas bursa saham di kawasan Asia yang juga berada di zona hijau.
Sebelumnya, indeks sempat tertekan cukup dalam akibat aksi jual yang masih mendominasi pasar di tengah tingginya volatilitas global dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Aktivitas perdagangan terpantau ramai. Hingga akhir sesi pertama, volume transaksi mencapai sekitar 199,5 juta lot saham dengan nilai transaksi sebesar Rp10,17 triliun.
Rebound IHSG dinilai mencerminkan mulai pulihnya sentimen pasar setelah tekanan besar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Sektor bahan baku atau basic industry menjadi motor utama penguatan indeks dengan kenaikan mencapai 3,79 persen. Penguatan sektor ini ditopang saham-saham berbasis industri dasar dan material seperti BRPT, INKP, INTP, dan SMGR.
Di kelompok saham unggulan LQ45, penguatan dipimpin emiten berbasis komoditas dan logam seperti MDKA, HRTA, INCO, dan MBMA. Selain itu, saham energi dan petrokimia seperti BUMI, DEWA, serta BRPT juga ikut menopang penguatan indeks.
Kenaikan saham-saham tersebut menunjukkan minat beli investor mulai kembali masuk ke sektor berbasis sumber daya alam dan industri.
Di sisi lain, tekanan masih membayangi sejumlah saham kapitalisasi besar. Pada daftar top losers LQ45, saham CUAN, AMMN, ASII, EMTK, TLKM, JPFA, dan KLBF menjadi pemberat pergerakan indeks.
Sementara itu, sektor properti tercatat menjadi sektor dengan pelemahan terdalam setelah turun 0,71 persen. Koreksi dipicu tekanan pada saham-saham seperti MTLA, DILD, LPKR, JRPT, CTRA, dan SMRA.
Kondisi tersebut mencerminkan investor masih berhati-hati terhadap sektor yang sensitif terhadap suku bunga dan daya beli masyarakat.
Meski berhasil ditutup di zona hijau pada sesi pertama, pergerakan IHSG masih dibayangi volatilitas tinggi. Sentimen eksternal berupa penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik global, serta kehati-hatian investor terhadap arah kebijakan domestik diperkirakan masih akan memengaruhi perdagangan hingga penutupan sesi II.















Komentar