JurnalPatroliNews – Jakarta – Tekanan jual besar-besaran kembali mengguncang pasar modal Indonesia pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Setelah sehari sebelumnya ditutup merosot 4,11 persen, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren pelemahan tajam sejak awal perdagangan dan semakin menjauh dari level psikologis 6.000.
Pada penutupan perdagangan Sesi I, IHSG tercatat turun 206,81 poin atau 3,48 persen ke posisi 5.734,26. Pelemahan tersebut mencerminkan tingginya tekanan yang masih membayangi pasar keuangan domestik di tengah sentimen negatif yang berkembang dalam beberapa hari terakhir.
Aksi jual yang meluas terlihat dari dominasi saham yang bergerak di zona merah. Sebanyak 716 saham mengalami penurunan, sementara hanya 68 saham yang menguat dan 175 saham lainnya bergerak stagnan.
Aktivitas transaksi juga berlangsung sangat tinggi. Nilai perdagangan mencapai Rp12,72 triliun dengan volume transaksi sebanyak 20,87 miliar lembar saham dan frekuensi perdagangan mencapai 1,36 juta kali. Tekanan tersebut turut menggerus kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia hingga sekitar Rp364 triliun hanya dalam setengah hari perdagangan.
Hampir seluruh sektor mengalami koreksi. Sektor properti dan bahan baku menjadi sektor dengan pelemahan terdalam, sementara sektor teknologi mencatatkan penurunan paling terbatas dibandingkan sektor lainnya.
Anjloknya IHSG terutama dipicu oleh tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan yang selama ini menjadi penopang utama indeks.
Saham Bank Central Asia menjadi kontributor terbesar pelemahan indeks dengan bobot negatif mencapai 18,74 poin. Di posisi berikutnya, saham Bank Rakyat Indonesia menyumbang tekanan sebesar 17,25 poin terhadap penurunan IHSG.
Tekanan juga datang dari saham Barito Pacific yang terafiliasi dengan pengusaha Prajogo Pangestu. Emiten tersebut menjadi penekan indeks terbesar ketiga dengan kontribusi negatif sebesar 10,13 poin.
Sementara itu, saham Astra International turut membebani pergerakan indeks sebesar 7,98 poin. Di bawahnya, saham Bank Mandiri menyumbang tekanan sebesar 7,82 poin dan masuk dalam daftar lima besar saham pemberat IHSG pada sesi pertama perdagangan.
Pelemahan pasar saham terjadi seiring meningkatnya tekanan di pasar keuangan domestik. Sebelumnya, nilai tukar rupiah juga terus terdepresiasi hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi dan arus modal di dalam negeri.
Pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan dari pemerintah dan otoritas moneter untuk meredam volatilitas yang terjadi di pasar keuangan nasional serta memulihkan kepercayaan investor.















Komentar