Perluas Gerakan di Indonesia Timur, SINDIKASI Makassar Resmi Terbentuk untuk Pekerja Kreatif

JurnalPatroliNews – Makassar – Jaringan gerakan buruh media dan industri kreatif di wilayah Indonesia Timur kini resmi memasuki babak baru yang semakin solid.

Setelah melewati proses pengorganisasian, pendidikan, dan konsolidasi panjang sejak tahun 2023, Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) Makassar resmi terbentuk pada Kamis kemarin.

Kehadiran wadah ini menjadi tonggak sejarah penting untuk memperkuat solidaritas di tengah ekosistem dunia kerja yang dinilai semakin rentan serta tidak pasti.

Momentum bersejarah tersebut diawali dengan menggelar diskusi publik bertajuk “Reorganisasi Gerakan Pekerja di Tengah Perubahan Dunia Kerja”.

Agenda diskusi yang berlangsung hangat tersebut dipusatkan di Cafe Lorong Pagi Sore, Jalan Salemba Nomor 14, Kota Makassar.

Acara ini menghadirkan empat narasumber berkompeten, yakni Sahrul Ramadan dari AJI Makassar, Sukrianto K. dari LBH Pers Makassar, Mia Rosmiati dari DPN SINDIKASI, dan Shany Kasysyaf selaku Komite Persiapan.

Forum tersebut sukses menjadi ruang temu inklusif bagi kalangan jurnalis, pekerja kreatif, pekerja lepas, komunitas seni, hingga berbagai elemen organisasi masyarakat sipil.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan agenda utama berupa Konferensi Pembentukan SINDIKASI Makassar yang berlangsung secara demokratis hingga sore hari.

Melalui konferensi tersebut, para anggota secara mufakat menetapkan jajaran kepengurusan wilayah perdana untuk masa bakti periode tahun 2026 hingga 2029.

Berdasarkan hasil keputusan forum, Shany Kasysyaf resmi terpilih untuk mengemban amanah sebagai Ketua Wilayah dengan didampingi oleh Atri yang menjabat sebagai Sekretaris Wilayah.

Membangun Kekuatan Kolektif dan Menolak Berjuang Sendirian

Ketua Wilayah SINDIKASI Makassar terpilih, Shany Kasysyaf, menegaskan bahwa kelahiran organisasi ini berakar dari kebutuhan nyata para pekerja di Sulawesi Selatan.

Para pekerja media dan sektor kreatif membutuhkan sebuah wadah perjuangan yang bersifat independen, demokratis, serta berpihak penuh pada hak-hak buruh.

Shany meyakini bahwa pengorganisasian secara kolektif merupakan jalan satu-satunya untuk mendongkrak posisi tawar pekerja di hadapan pemberi kerja.

SINDIKASI Makassar diproyeksikan menjadi rumah bersama bagi para pekerja lepas, pembuat konten, seniman, hingga jurnalis yang selama ini menghadapi persoalan ketenagakerjaan secara terpisah.

Sementara itu, Koordinator Divisi Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Nasional (DPN) SINDIKASI, Setyo A. Saputro, memberikan apresiasi tinggi atas terbentuknya kepengurusan ini.

Setyo menilai lahirnya kepengurusan di Kota Makassar membuktikan bahwa kesadaran untuk berserikat terus tumbuh subur di kalangan pekerja industri modern.

Langkah ini dipandang sangat krusial mengingat dunia kerja saat ini terus dihantam gelombang fleksibilisasi kerja, dominasi kontrak jangka pendek, serta minimnya kepastian kesejahteraan.

Pihak DPN SINDIKASI menegaskan bahwa perbaikan nasib dan kondisi kerja tidak akan pernah datang secara instan dari atas, melainkan harus diperjuangkan dari bawah secara terorganisir.

Dengan resminya pelantikan ini, Makassar sah menjadi wilayah keempat dalam jaringan SINDIKASI setelah sebelumnya sukses terbentuk di Jabodetabek, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Saat ini, proses pengorganisasian serupa dikabarkan tengah digodok secara intensif oleh para anggota ekosistem kreatif di wilayah Bandung dan Bali.

Sebagai penutup, Shany Kasysyaf mengajak seluruh elemen pekerja kreatif di Sulawesi Selatan untuk meleburkan diri dan tidak lagi menghadapi konflik ketenagakerjaan secara individual.

Komentar