JurnalPatroliNews – Jakarta – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Bersatu melayangkan tudingan serius terkait adanya intervensi dari para aktor politik praktis di balik mencuatnya gelombang aksi demonstrasi mahasiswa belakangan ini.
Pihak aliansi menduga kuat bahwa gerakan yang menyasar penolakan terhadap Program Makan Bergizi Gratis tersebut tidak murni bergerak atas dasar aspirasi idealis, melainkan disetir oleh kepentingan elite tertentu.
Dugaan penunggangan tersebut didasarkan pada temuan rekam jejak digital serta kedekatan pimpinan aksi, Tiyo Ardianto, dengan sejumlah tokoh sentral yang memiliki afiliasi politik dengan PDI Perjuangan serta eks tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres lalu.
Juru Bicara BEM Bersatu, Rahmat Djimbula, mengungkapkan dalam jumpa pers resmi bahwa pihaknya telah mengantongi sejumlah indikasi kuat dan bukti manifes lapangan yang patut dicermati oleh publik nasional.
Rahmat memaparkan salah satu indikasi yang paling mencolok terlihat dari fasilitas operasional berupa unit mobil mewah jenis Fortuner yang digunakan oleh Tiyo Ardianto selama memimpin pergerakan massa di lapangan.
Mobil tersebut diduga kuat terdaftar secara hukum atas nama Siti Nuraeni yang merupakan adik kandung dari Letjen TNI Purnawirawan Setyo Sularso.
Sosok Setyo Sularso sendiri diketahui memiliki hubungan kekerabatan sebagai besan dari mantan Panglima TNI Jenderal Purnawirawan Andika Perkasa, salah satu tokoh kunci dalam barisan tim pemenangan nasional Ganjar Pranowo.
Kecurigaan barisan mahasiswa ini diklaim semakin diperkuat dengan terlihatnya kehadiran politisi senior PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, yang sempat memantau langsung di tengah-tengah kerumunan massa aksi penolakan.
Tidak berhenti di situ, Rahmat menambahkan bahwa indikasi keterkaitan jejaring politik praktis ini juga tercermin dari rencana agenda konsolidasi lanjutan yang bakal dihadiri oleh Tiyo Ardianto dalam waktu dekat.
Tiyo dijadwalkan hadir sebagai salah satu pembicara dalam forum Dialog Nasional Kebangsaan di Kota Bandung, bersanding dengan deretan figur yang selama ini vokal mengkritik kebijakan pemerintah seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dan dokter Tifa.
Di dalam pamflet undangan forum diskusi yang sama, nama Letjen TNI Purnawirawan Setyo Sularso juga terkonfirmasi ikut hadir, yang dinilai menegaskan adanya keterhubungan pola komunikasi antar-aktor tersebut.
Menyikapi fenomena ini, BEM Bersatu memandang perlu adanya alarm penanda bagi dunia kemahasiswaan agar marwah pergerakan mahasiswa tetap terjaga pada jalur independen dan steril dari distorsi perebutan kekuasaan.
Di samping masalah independensi, Rahmat juga mempertanyakan skala prioritas dan urgensi isu yang sengaja diangkat oleh kelompok bentukan Tiyo Ardianto tersebut.
Menurutnya, di tengah impitan kebutuhan gizi dasar masyarakat, perhatian publik justru sengaja dialihkan pada narasi penolakan Program Makan Bergizi Gratis yang sejatinya berdampak langsung pada kesejahteraan anak-anak dan ibu hamil.
Meskipun demikian, BEM Bersatu tetap memberikan catatan kritis bahwa perbaikan tata kelola, transparansi anggaran, serta akuntabilitas pendistribusian program pangan nasional tersebut harus tetap dikawal ketat agar tepat sasaran.
Sebagai bentuk sikap bersama, aliansi ini mendesak agar seluruh elemen gerakan mahasiswa di Indonesia segera disterilkan dari pasokan pendanaan gelap, fasilitas logistik mewah, serta intervensi dari faksi partai politik manapun.
Hingga naskah berita ini naik cetak, pihak DPP PDI Perjuangan yang dihubungi oleh awak media untuk dimintai konfirmasi mengenai tudingan keterlibatan kadernya dilaporkan belum memberikan respons jawaban resmi.
Deklarasi pernyataan sikap penolakan penunggangan politik ini didukung secara tertulis oleh perwakilan dari sepuluh komponen BEM Fakultas lintas universitas, antara lain Wildan Ricky dari UNISIA, Muhammad Yani dari UIJ, Ardi Zulkifly dari UNAS, Ardiansyah dari Al-Aqidah, Ahmad Ghazy dari UNJ, Alfi dari UNPAM, Rahmat Djimbula dari UIC, Dicky dari Unindra, Ahmad dari BSI, serta Rezky Anandar dari Institut STIAMI.














Komentar