JurnalPatroliNews | Jakarta – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut pada perdagangan Kamis (25/6/2026). Di tengah pergerakan yang beragam pada mata uang Asia, rupiah tercatat kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), mencerminkan masih kuatnya sentimen global yang menopang mata uang Negeri Paman Sam tersebut.
Berdasarkan data pasar pagi hari, rupiah bergerak di level Rp17.940 per dolar AS atau terkoreksi sekitar 0,08 persen. Pelemahan tersebut terjadi ketika sebagian mata uang Asia juga mengalami tekanan akibat tingginya ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pergerakan mata uang kawasan menunjukkan dinamika yang beragam. Beberapa mata uang seperti ringgit Malaysia, dong Vietnam, yen Jepang, dan yuan China berhasil mencatat penguatan terhadap dolar AS. Namun di sisi lain, peso Filipina, won Korea Selatan, dolar Taiwan, baht Thailand, termasuk rupiah Indonesia masih bergerak di zona negatif.
Kondisi tersebut terjadi meskipun indeks dolar AS (DXY) pada perdagangan pagi terpantau melemah tipis. Namun secara keseluruhan, posisi indeks dolar masih berada di level yang relatif tinggi setelah sebelumnya sempat menyentuh titik tertinggi dalam lebih dari satu tahun terakhir. Situasi ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap aset berbasis dolar masih cukup kuat.
Analis pasar menilai penguatan dolar AS masih didorong oleh ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam beberapa bulan mendatang. Sikap tersebut muncul seiring masih tingginya perhatian otoritas moneter AS terhadap risiko inflasi yang belum sepenuhnya terkendali.
Pelaku pasar global kini menaruh perhatian besar pada sejumlah indikator ekonomi penting yang akan dirilis dalam waktu dekat. Salah satu yang paling dinantikan adalah data Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi yang selama ini menjadi acuan utama The Fed dalam menentukan arah suku bunga.
Selain data inflasi, investor juga mencermati perkembangan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, laporan pendapatan masyarakat, pesanan barang tahan lama, hingga klaim pengangguran mingguan. Seluruh data tersebut diyakini akan memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi AS sekaligus menjadi petunjuk bagi kebijakan moneter berikutnya.
Di sisi lain, perkembangan geopolitik global, khususnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang sempat memicu lonjakan harga energi dunia, masih menjadi faktor yang turut memengaruhi sentimen pasar. Meski harga minyak mulai stabil, ketidakpastian ekonomi global membuat investor tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Bagi Indonesia, pelemahan rupiah menjadi tantangan tersendiri karena dapat meningkatkan biaya impor dan memberi tekanan terhadap sektor-sektor yang bergantung pada kebutuhan bahan baku dari luar negeri. Oleh karena itu, pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan otoritas moneter dan perkembangan ekonomi global yang akan menentukan arah rupiah dalam beberapa pekan mendatang.















Komentar