JurnalPatroliNews | Internasional – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah militer AS melancarkan serangan udara berskala besar yang berlangsung selama sekitar dua jam pada Rabu (29/7/2026). Operasi tersebut menargetkan puluhan fasilitas militer yang diklaim terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan itu merupakan respons langsung atas serangkaian aksi Iran terhadap personel dan instalasi militer AS di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataan resminya, CENTCOM menyebut operasi telah selesai dilaksanakan dan berhasil menghantam berbagai sasaran strategis milik IRGC.
Target yang diserang meliputi pusat komando militer, fasilitas rudal dan pesawat nirawak (drone), sistem pengawasan, instalasi pertahanan pesisir, hingga kemampuan maritim yang disebut menjadi bagian dari infrastruktur militer Iran.
“Aset CENTCOM menyerang puluhan sasaran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran, termasuk pusat komando militer, fasilitas rudal dan drone, situs pengawasan dan pertahanan pantai, serta kemampuan maritim,” demikian pernyataan resmi CENTCOM.
Washington menyatakan operasi militer tersebut dilakukan setelah Iran melancarkan serangan terhadap pasukan Amerika yang ditempatkan di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, pihak militer AS mengungkapkan bahwa sehari sebelumnya, Selasa (28/7), sistem pertahanan udara Amerika berhasil mencegat sejumlah rudal balistik yang ditembakkan Iran.
Di sisi lain, pemerintah Iran mengonfirmasi telah meluncurkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di Yordania. Pengakuan tersebut semakin memperlihatkan meningkatnya intensitas konfrontasi langsung antara kedua negara.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan tinggal diam menghadapi setiap serangan yang ditujukan kepada kepentingan maupun personel militer AS.
“Kami akan menghantam mereka dengan sangat keras,” tegas Trump seperti dikutip Reuters.
Serangan terbaru ini menandai babak baru meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pengamat menilai aksi saling balas antara Washington dan Teheran berpotensi memperluas konflik regional apabila tidak segera diikuti langkah-langkah diplomatik untuk meredakan situasi.
Hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai jumlah korban maupun tingkat kerusakan akibat serangan tersebut. Sementara itu, komunitas internasional terus mencermati perkembangan situasi karena konflik yang melibatkan kedua negara berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan kawasan, jalur perdagangan internasional, hingga pasar energi global.













Komentar