JurnalPatroliNews | Cimahi — Gelaran Art Fair Cima’Art Edupreneur di Kota Cimahi tidak sekadar menjadi ruang pamer karya seni. Pertemuan para seniman dengan Prof. Dr. Indira Santi Kertabudi turut membuka pembahasan mengenai kebudayaan, identitas bangsa hingga pentingnya wawasan kebangsaan.
Guru Besar Lemhannas RI tersebut hadir di tengah pameran pada Minggu (20/9/2026). Kehadirannya mendapat sambutan dari para seniman dan penggiat seni yang mengikuti kegiatan tersebut.
Di antara deretan karya lukisan seniman lokal, Prof. Indira tampak berdialog langsung dengan sejumlah pelukis dan pelaku seni. Diskusi berkembang pada bagaimana seni dapat menjadi medium untuk merefleksikan keberagaman sekaligus memperkuat kecintaan terhadap Indonesia.
Seni Tak Hanya Bicara Estetika
Ketua Art Fair Cima’Art Edupreneur, Drs. Moh. Sobirin, menyambut langsung kehadiran Prof. Indira dalam kegiatan tersebut.
Sebagai bentuk apresiasi, Sobirin menyerahkan sebuah lukisan kepada Prof. Indira.
Menurut Sobirin, kehadiran Prof. Indira memberikan makna tersendiri bagi penyelenggaraan Art Fair Cima’Art, terutama dalam melihat seni tidak semata dari sisi keindahan karya.
“Ini adalah kehormatan bagi kami. Kehadiran Prof. Indira memberikan energi baru bahwa seni tidak hanya soal estetika, tapi juga tentang identitas dan ketahanan bangsa,” ujar Drs. Moh. Sobirin di sela-sela acara.
Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya upaya menempatkan seni sebagai bagian dari pembicaraan yang lebih luas mengenai kebudayaan dan kehidupan berbangsa.
Prof. Indira: Seni Mampu Menyatukan Perbedaan
Prof. Indira Santi Kertabudi menilai seni memiliki posisi strategis dalam memperkuat wawasan kebangsaan.
Menurutnya, karya-karya seniman lokal yang ditampilkan dalam Art Fair Cima’Art menjadi gambaran mengenai keberagaman dan kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia.
Ia menilai keberagaman tersebut perlu terus dirawat melalui berbagai ruang ekspresi, termasuk melalui karya seni.
“Seni adalah bahasa universal yang mampu menyatukan perbedaan. Dari Cimahi, kita melihat bagaimana para seniman mengekspresikan kecintaan pada tanah air melalui karya. Inilah wawasan kebangsaan yang hidup,” ungkap Prof. Indira.
Pesan tersebut menempatkan karya seni bukan hanya sebagai objek untuk dinikmati, tetapi juga sebagai media yang dapat menyampaikan nilai, identitas dan pengalaman masyarakat.
Dari Cimahi, Seni Bertemu Ekonomi Kreatif
Art Fair Cima’Art Edupreneur digelar sebagai wadah bagi para seniman di Kota Cimahi dan Jawa Barat untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat.
Selain menjadi ruang apresiasi seni, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya.
Kehadiran masyarakat memberikan ruang bagi para seniman untuk berinteraksi secara langsung dengan publik sekaligus memperkenalkan karya yang mereka hasilkan.
Dengan demikian, pameran tidak hanya menjadi tempat memajang lukisan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara seniman, masyarakat dan berbagai gagasan mengenai kebudayaan.
Wawasan Kebangsaan dari Ruang Seni
Pertemuan di Art Fair Cima’Art memperlihatkan bagaimana isu kebangsaan dapat hadir melalui ruang-ruang kebudayaan.
Karya seni yang lahir dari pengalaman dan lingkungan masyarakat dapat menjadi medium untuk mengenalkan keragaman Indonesia. Dari sana, nilai kebangsaan dapat disampaikan melalui cara yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Bagi Prof. Indira, seni memiliki potensi untuk menjembatani perbedaan melalui bahasa yang dapat diterima berbagai kalangan.
Sementara bagi penyelenggara, dukungan terhadap seniman lokal sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga ekosistem seni dan ekonomi kreatif di daerah.
Art Fair Cima’Art Disambut Masyarakat
Art Fair Cima’Art Edupreneur berlangsung hingga akhir pekan dan mendapat antusiasme dari masyarakat.
Pameran tersebut menghadirkan karya para seniman dari Kota Cimahi dan Jawa Barat dengan semangat memperluas ruang apresiasi sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif.
Kehadiran Prof. Indira Santi Kertabudi menjadi salah satu momentum dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Dari ruang pamer di Cimahi, seni kemudian tidak hanya berbicara tentang warna, bentuk dan estetika, tetapi juga membawa percakapan mengenai kebudayaan, identitas serta wawasan kebangsaan.















Komentar