JurnalPatroliNews – Klaten – Seorang siswi kelas IX SMP Negeri 2 Klaten berinisial A menjadi sorotan publik setelah gagal lolos seleksi tim aubade sekolah. Penyebabnya, menurut penuturan orang tua siswi, adalah adanya ketentuan tak tertulis yang mengharuskan peserta perempuan mengenakan hijab, sementara A diketahui beragama Hindu.
Vita, ibu dari siswi tersebut, mengaku anaknya sangat kecewa lantaran impian untuk ikut tim aubade sudah ia nantikan sejak kelas VII. Saat seleksi berlangsung, A hanya ditawarkan dua pilihan: menjadi official atau kembali ke kelas.
“Anak saya lebih memilih balik ke kelas karena tidak ingin ketinggalan pelajaran. Dia juga sudah aktif di pasukan Garda Satya. Alasan panitia, karena dia tidak berhijab,” tutur Vita, Rabu (27/8/2025).
Merasa janggal, Vita kemudian mengonfirmasi hal tersebut kepada salah satu panitia seleksi melalui pesan WhatsApp. Dari jawaban yang diterima, disebutkan bahwa syarat keseragaman seragam menjadi pertimbangan utama, termasuk penggunaan hijab agar tampak kompak di lapangan.
Penjelasan itu tak memuaskan Vita. Ia mengaku sudah menanyakan langsung ke Dinas Pendidikan Klaten, namun peristiwa itu sudah terlanjur membuat anaknya tertekan hingga enggan masuk sekolah.
“Sejak kejadian itu, dia sering menangis, murung, dan mengurung diri di kamar. Bahkan saat lomba berlangsung 17 Agustus lalu, dia sampai histeris karena sekolahnya tetap juara meski ada kasus ini,” ujarnya.
Klarifikasi dari Pihak Sekolah
Kepala SMPN 2 Klaten, Tonang Juniarta, membantah adanya aturan wajib hijab dalam seleksi aubade. Menurutnya, informasi yang beredar di media sosial hanyalah salah persepsi.
“Dalam SOP seleksi sama sekali tidak ada ketentuan soal hijab. Seleksi bersifat terbuka, memberi kesempatan seluas-luasnya, dan tidak boleh diskriminatif baik gender maupun SARA,” tegas Tonang.
Tonang menambahkan, panitia seleksi dibekali aturan yang jelas agar proses berjalan transparan dan adil. “Prinsipnya inklusif. Jadi kami pastikan tidak ada aturan seperti yang diberitakan,” imbuhnya.














