Harga Emas Tertekan Penguatan Dolar AS Meski Rebound di Akhir Pekan

JurnalPatroliNews – New York – Pergerakan harga emas dunia menunjukkan perlawanan pada penutupan perdagangan akhir pekan setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang mengecewakan pasar. Meski sempat mengalami penguatan, logam mulia tersebut tetap mencatat kinerja mingguan negatif untuk pertama kalinya dalam lima pekan terakhir akibat penguatan US Dollar.

Pasar global dikejutkan oleh laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang menunjukkan hilangnya sekitar 92.000 pekerjaan pada bulan lalu. Angka tersebut berbanding terbalik dengan proyeksi para ekonom yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan sekitar 59.000 pekerjaan. Sementara itu, tingkat pengangguran di Amerika Serikat meningkat menjadi 4,4 persen.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan potensi terjadinya Stagflation, yakni situasi ketika pertumbuhan ekonomi melambat namun tekanan inflasi tetap tinggi.

Pada perdagangan Jumat (6/3/2026) waktu New York, harga emas spot naik sekitar 1,4 persen menjadi 5.149,14 dolar AS per ons. Namun secara mingguan, harga emas masih mencatat penurunan sekitar 2,4 persen.

Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April ditutup naik 1,6 persen pada level 5.158,70 dolar AS per ons.

Pergerakan serupa juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot naik 2,6 persen menjadi 84,30 dolar AS per ons, sedangkan platinum spot menguat 0,5 persen ke level 2.131,50 dolar AS per ons. Meski demikian, seluruh logam tersebut masih menuju pelemahan secara mingguan.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah—termasuk serangan militer Israel ke Beirut serta meningkatnya ketegangan dengan Iran—emas justru kesulitan mempertahankan momentum penguatan.

Salah satu penyebabnya adalah penguatan U.S. Dollar Index yang mencatat kenaikan mingguan terkuat dalam satu tahun terakhir. Sebagai aset safe-haven yang bersaing dengan dolar AS, penguatan mata uang tersebut membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor global.

Berdasarkan data dari CME Group melalui alat pemantau CME FedWatch Tool, bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 18 Maret mendatang. Peluang pemangkasan suku bunga baru diperkirakan terbuka pada Juli.

Di sisi lain, konflik yang terus memanas juga mendorong lonjakan harga minyak mentah global. Situasi ini disebut menyerupai pola pada awal Russian invasion of Ukraine pada 2022, ketika harga energi melonjak tajam.

Kenaikan harga energi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran inflasi jangka panjang, yang secara historis sering menjadi katalis positif bagi harga emas.

Meski mengalami tekanan dalam sepekan terakhir, secara keseluruhan kinerja emas sepanjang tahun ini masih tergolong kuat dengan kenaikan lebih dari 18 persen sejak awal tahun.