Ada Efek Jokowi? 13% Warga Potensi Pilih PSI, Tapi 34,8% Justru Menolak

JurnalPatroliNews | Jakarta — Aktivitas politik Joko Widodo yang disebut melakukan safari politik untuk membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ternyata belum otomatis membuat mayoritas masyarakat tertarik memilih partai tersebut.

Hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) menunjukkan sebanyak 34,8 persen responden menyatakan tidak tertarik memilih PSI setelah mengetahui aktivitas politik Jokowi untuk membesarkan partai tersebut.

Di sisi lain, terdapat 13 persen responden yang menyatakan tertarik untuk bergabung atau memilih PSI setelah mengetahui aktivitas Jokowi tersebut.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno mengatakan tingkat pengetahuan masyarakat mengenai aktivitas Jokowi untuk membesarkan PSI juga belum dominan.

Dari hasil survei, sebanyak 37,1 persen responden mengetahui Jokowi melakukan safari politik untuk membesarkan PSI. Sementara 62,9 persen responden mengaku tidak mengetahui aktivitas tersebut.

“Dari masyarakat yang menyatakan tahu kalau Jokowi itu blusukan dan bekerja untuk PSI, kira-kira begitu, ada sekitar kurang lebih 13,0 persen yang menyatakan tertarik untuk bergabung dengan PSI,” ujar Adi dalam pemaparan hasil survei di kanal YouTube Parameter Politik Indonesia, dikutip Sabtu (5/9/2026).

34,8 Persen Tak Tertarik

Di antara responden yang mengetahui aktivitas Jokowi tersebut, sikap terhadap PSI terbilang beragam.

Sebanyak 34,8 persen menyatakan tidak tertarik memilih PSI.

Kemudian 28,1 persen menjawab biasa saja, sedangkan 24,2 persen lainnya tidak memberikan jawaban.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa eksposur terhadap aktivitas politik Jokowi memang dapat membuka ruang perhatian terhadap PSI, tetapi belum seluruhnya berujung pada ketertarikan untuk memberikan dukungan politik.

Dengan kata lain, popularitas atau aktivitas politik seorang tokoh belum otomatis menjadi suara elektoral bagi partai yang didukungnya.

Ada Potensi Dukungan dari Faktor Jokowi

Meski sebagian besar responden belum tertarik, PPI melihat terdapat ruang pertumbuhan bagi PSI.

Adi menyebut sekitar 13 persen dari masyarakat yang mengetahui aktivitas Jokowi dinilai memiliki potensi untuk memilih atau bergabung dengan PSI.

“Artinya apa? Dari 37 persen masyarakat yang tahu kalau Jokowi bekerja untuk PSI ada sekitar 13 persen yang berpotensi memilih dan kemudian bergabung dengan PSI. Intinya ada potensi,” ujar Adi.

Temuan tersebut menunjukkan nama Jokowi masih dapat menjadi salah satu faktor yang menarik perhatian sebagian masyarakat terhadap PSI.

Namun, potensi tersebut belum bisa disamakan dengan dukungan politik yang sudah terbentuk.

Adi: Potensi Belum Tentu Jadi Suara

Adi mengingatkan bahwa istilah “potensi tertarik” tidak berarti seluruh responden yang menyatakan ketertarikan akan benar-benar menjadi pemilih PSI.

Menurut dia, keberlanjutan dukungan tersebut akan sangat dipengaruhi oleh kerja politik PSI dalam periode berikutnya.

“Jadi kalimat potensi tertarik bergabung dengan PSI itu memang jumlahnya besar karena faktor Jokowi, tapi ingat namanya potensi itu ya bisa menjadi bagian dari PSI atau tidak menjadi bagian dari PSI,” terang Adi.

Ia menilai PSI tetap harus membuktikan kemampuan politiknya untuk mengubah perhatian masyarakat menjadi dukungan nyata.

“Sangat tergantung dengan kerja-kerja politik yang akan dilakukan oleh PSI di masa-masa yang akan datang,” sambungnya.

Jokowi Jadi Faktor, PSI Tetap Harus Bekerja

Temuan survei tersebut menempatkan Jokowi sebagai salah satu faktor yang berpotensi memperluas perhatian masyarakat terhadap PSI.

Namun, angka 34,8 persen yang menyatakan tidak tertarik menunjukkan bahwa pengaruh tersebut belum bersifat merata.

Bahkan, mayoritas responden dalam survei justru mengaku tidak mengetahui aktivitas Jokowi yang disebut diarahkan untuk membesarkan PSI.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi PSI.

Partai tersebut tidak cukup hanya mengandalkan figur populer, tetapi perlu membangun identitas, program, jaringan dan komunikasi politik yang mampu mempertahankan perhatian masyarakat hingga menjadi dukungan elektoral.

Survei Melibatkan 1.200 Responden

Survei Parameter Politik Indonesia dilakukan terhadap warga negara Indonesia yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah.

Sebanyak 1.200 responden dilibatkan dalam survei yang tersebar secara proporsional di 38 provinsi, 116 kabupaten/kota, 120 kecamatan dan 120 desa/kelurahan.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka oleh surveyor mahasiswa.

Survei berlangsung pada 20 Juli hingga 3 Agustus 2026 dengan margin of error sebesar 2,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Angka Survei Jadi Peringatan Sekaligus Peluang

Hasil survei PPI memberikan dua gambaran sekaligus bagi PSI.

Di satu sisi, terdapat potensi dukungan dari masyarakat yang mengetahui aktivitas politik Jokowi. Angka 13 persen menunjukkan adanya kelompok responden yang terbuka terhadap kemungkinan memilih atau bergabung dengan PSI.

Namun di sisi lain, angka 34,8 persen yang menyatakan tidak tertarik menjadi sinyal bahwa pengaruh Jokowi tidak serta-merta mengubah sikap seluruh pemilih.

Masih ada pula 28,1 persen yang bersikap biasa saja dan 24,2 persen yang tidak memberikan jawaban.

Artinya, ruang untuk mengubah perhatian menjadi dukungan masih terbuka lebar, tetapi membutuhkan kerja politik yang konsisten.

Bagi PSI, tantangan utamanya bukan sekadar membuat masyarakat mengetahui kedekatan atau aktivitas politik Jokowi.

Persoalan yang jauh lebih penting adalah bagaimana perhatian tersebut diterjemahkan menjadi kepercayaan, kemudian berubah menjadi pilihan politik.

Survei PPI menunjukkan bahwa figur Jokowi dapat membuka pintu perhatian, tetapi PSI sendiri yang harus menentukan apakah pintu tersebut berujung pada dukungan politik atau berhenti sebatas ketertarikan sesaat.

Komentar