Bimbingan Manasik Nasional 2026: Menhaj Tekankan Pentingnya Istithaah Kesehatan bagi Jemaah

JurnalPatroliNews – Jakarta – Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Gus Irfan Yusuf secara resmi membuka kegiatan Bimbingan Manasik Haji Nasional tahun 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada Rabu, 11 Februari 2026.

Dalam forum yang diikuti oleh jemaah dari seluruh Indonesia baik secara luring maupun daring tersebut, Menhaj menekankan bahwa pembentukan Kementerian Haji dan Umrah merupakan langkah strategis negara untuk memberikan pelayanan yang lebih fokus, terarah, dan berkelanjutan.

Penyelenggaraan haji kini diposisikan sebagai layanan publik yang harus menjamin martabat serta keamanan jemaah sejak masa persiapan hingga kembali ke tanah air.

Salah satu fokus utama yang disampaikan Menhaj dalam kebijakan haji tahun ini adalah penguatan program strategis untuk menurunkan biaya haji dan menciptakan sistem daftar tunggu yang lebih berkeadilan.

Selain itu, pemerintah berkomitmen untuk mengoptimalkan peran haji dalam mendukung ekonomi nasional melalui ekspor produk-produk dalam negeri guna memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah selama berada di Arab Saudi.

Inovasi lainnya yang terus dikembangkan adalah konsep Kampung Haji yang terintegrasi untuk memudahkan koordinasi dan layanan jemaah.

Menhaj Gus Irfan juga memberikan perhatian khusus pada aspek kemanusiaan melalui program haji ramah lansia, disabilitas, dan perempuan.

Kebijakan ini mencakup penguatan pendampingan bagi jemaah dengan keterbatasan fisik serta perlindungan keamanan yang lebih ketat.

Menhaj mengingatkan bahwa ibadah haji adalah ibadah fisik yang sakral, sehingga diperlukan kesiapan fisik dan mental yang matang. Konsep istithaah kesehatan kini menjadi dasar utama kesiapan jemaah sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci.

Melalui bimbingan manasik ini, diharapkan jemaah dapat membangun pemahaman ibadah yang mendalam sekaligus memupuk kedisiplinan dan rasa kebersamaan.

Target besar yang ingin dicapai pemerintah pada penyelenggaraan tahun ini adalah Tri Sukses Haji, yang meliputi sukses ritual ibadah, sukses ekosistem ekonomi melalui pemberdayaan umat, serta sukses peradaban melalui pembinaan karakter jemaah yang membawa nilai-nilai positif bagi masyarakat sekembalinya dari Tanah Suci.