Bukan Cuma Listrik! AI Ternyata Butuh Triliunan Liter Air untuk Tetap Hidup

JurnalPatroliNews | Jakarta — Setiap kali pengguna menekan tombol run atau mengirim prompt ke layanan kecerdasan buatan (AI), proses komputasi berlangsung di balik layar. Ribuan chip bekerja, listrik mengalir dalam jumlah besar, suhu perangkat meningkat, dan sistem pendingin harus bekerja untuk menjaga pusat data tetap beroperasi.

Di balik kemudahan menghasilkan teks, gambar, suara hingga video dalam hitungan detik, terdapat persoalan lingkungan yang mulai mendapat perhatian: konsumsi air untuk operasional pusat data.

Persoalannya bukan semata-mata berapa banyak air yang digunakan untuk satu prompt, melainkan bagaimana konsumsi tersebut terakumulasi ketika AI digunakan oleh jutaan bahkan miliaran orang setiap hari.

Setiap permintaan AI dikirimkan ke pusat data yang menjadi tempat pemrosesan komputasi. Di dalamnya terdapat perangkat keras berperforma tinggi, termasuk chip yang membutuhkan energi besar ketika menjalankan model AI.

Semakin kompleks tugas yang diberikan—misalnya membuat gambar, suara atau video—semakin besar pula kebutuhan komputasinya.

Konsekuensinya, panas yang dihasilkan perangkat juga meningkat.

Sistem pendingin kemudian digunakan untuk menjaga temperatur peralatan tetap berada dalam batas aman. Pada sejumlah pusat data, air tawar digunakan dalam sistem pendinginan.

Penggunaan air laut sebagai alternatif memiliki tantangan tersendiri karena kandungan garam dan mineral dapat mempercepat korosi, memicu pembentukan kerak hingga menimbulkan gangguan biologis pada sistem pendingin.

Dengan meningkatnya pembangunan pusat data dan kebutuhan komputasi AI, persoalan air pun ikut menjadi bagian dari perhitungan dampak lingkungan industri teknologi.

Angka konsumsi air AI tidak memiliki satu angka baku. Besarannya dapat berubah tergantung model yang digunakan, jenis tugas, lokasi pusat data, teknologi pendinginan, efisiensi perangkat keras hingga sumber energi yang digunakan.

Dalam penelitian Google yang dipublikasikan pada Agustus 2025, satu prompt teks yang diproses pada skala Google diperkirakan membutuhkan sekitar 0,26 mililiter air atau sekitar lima tetes.

Angka tersebut terlihat sangat kecil jika dihitung untuk satu permintaan. Namun, skalanya berubah ketika penggunaan AI dihitung secara keseluruhan.

Google juga melaporkan konsumsi air perusahaan mencapai sekitar 10,9 miliar galon atau 41,26 miliar liter pada 2025, berdasarkan laporan lingkungan yang dirilis pada Juni 2026.

Sementara itu, CEO OpenAI Sam Altman pernah menyebut satu permintaan kepada ChatGPT menggunakan sekitar seperenam belas sendok teh air. OpenAI sendiri belum mempublikasikan angka total konsumsi air seluruh pusat datanya secara terperinci.

Penelitian United Nations University (UNU) mengenai jejak lingkungan AI memberikan gambaran lain mengenai perbedaan kebutuhan komputasi berdasarkan jenis pekerjaan.

Menurut riset tersebut, produksi satu gambar AI memiliki jejak air sekitar 29 mililiter, sedangkan produksi video AI yang kompleks dapat mencapai sekitar 4,1 liter.

Perbedaannya cukup mencolok.

Video membutuhkan proses komputasi yang jauh lebih berat dibandingkan teks sederhana. Karena itu, kebutuhan energi dan dampak lingkungan yang menyertainya juga dapat meningkat.

Riset tersebut juga memperkirakan energi untuk menghasilkan gambar AI setara dengan kebutuhan menyalakan lampu LED 10 watt selama sekitar 17 menit. Sementara pembuatan video AI dengan kompleksitas tinggi dapat membutuhkan energi setara lampu yang sama selama sekitar 42 jam.

Persoalan utama bukan hanya konsumsi satu prompt, satu gambar, atau satu video.

Ketika jutaan pengguna mengakses AI secara bersamaan setiap hari, kebutuhan tersebut terakumulasi menjadi konsumsi dalam skala industri.

Estimasi yang dikutip dalam kajian mengenai jejak lingkungan AI menyebut jejak air pusat data secara global dapat mencapai sekitar 4,5 triliun liter per tahun.

Volume tersebut menggambarkan betapa besarnya kebutuhan air apabila seluruh ekosistem pusat data dihitung secara agregat.

Namun, angka tersebut harus dibaca secara hati-hati. Konsumsi air pusat data tidak seluruhnya dapat dianggap sebagai air yang “hilang”. Sebagian air dapat dikembalikan ke lingkungan, sementara sebagian lainnya menguap atau mengalami perubahan kualitas.

Karena itu, jejak air (water footprint) dan konsumsi air aktual merupakan dua konsep yang tidak selalu identik.

Persoalan menjadi lebih sensitif ketika pusat data dibangun di wilayah yang memang telah mengalami tekanan terhadap sumber air.

United Nations University memperingatkan bahwa pengambilan air dalam skala besar untuk kebutuhan pusat data dapat memberikan tekanan tambahan terhadap sistem air di wilayah sekitar, terutama ketika fasilitas tersebut beroperasi di daerah dengan cadangan air terbatas.

Salah satu contoh yang banyak mendapat perhatian adalah Querétaro, Meksiko.

Wilayah tersebut berkembang menjadi salah satu lokasi pusat data di Meksiko. Sejumlah perusahaan teknologi membangun fasilitas pusat data di kawasan tersebut.

Di sisi lain, masyarakat di sejumlah wilayah sekitar menghadapi keterbatasan pasokan air. Di Viborillas, misalnya, rumah tangga dilaporkan hanya memperoleh pasokan air beberapa hari dalam sepekan.

Kondisi tersebut memperlihatkan persoalan yang lebih besar: ketika kebutuhan industri teknologi tumbuh di wilayah yang sumber airnya terbatas, kepentingan industri dan kebutuhan dasar masyarakat dapat berada dalam posisi yang berhadapan.

Persoalan serupa pernah muncul di Middenmeer, Hollands Kroon, Belanda.

Sebuah pusat data Microsoft di wilayah tersebut dilaporkan menggunakan sekitar 84 juta liter air minum pada 2021.

Penggunaan air tersebut menjadi sorotan karena terjadi ketika Belanda sedang menghadapi periode musim panas yang sangat kering.

Kasus seperti ini menunjukkan bahwa dampak pusat data tidak hanya bergantung pada berapa banyak air yang digunakan, tetapi juga di mana dan kapan air tersebut diambil.

Penggunaan air dalam jumlah tertentu mungkin tidak menjadi persoalan besar di daerah yang memiliki cadangan air melimpah. Sebaliknya, volume yang sama dapat menjadi persoalan serius di kawasan yang sedang mengalami kekeringan atau penurunan muka air tanah.

Selama ini, pembahasan mengenai dampak lingkungan AI lebih banyak berkisar pada kebutuhan listrik dan emisi karbon.

Namun, ekspansi pusat data menunjukkan bahwa persoalannya jauh lebih luas.

Ada kebutuhan listrik, lahan, perangkat keras, mineral, serta air untuk sistem pendinginan.

Pertumbuhan AI yang sangat cepat membuat kebutuhan terhadap infrastruktur tersebut berpotensi meningkat secara signifikan.

Karena itu, pembangunan pusat data masa depan tidak cukup hanya mempertimbangkan ketersediaan listrik dan konektivitas internet. Ketersediaan air juga menjadi faktor strategis yang harus diperhitungkan sejak tahap perencanaan.

Teknologi AI menawarkan manfaat besar bagi masyarakat dan dunia usaha. Namun, perkembangan teknologi tersebut juga membawa konsekuensi ekologis yang perlu dikelola.

Efisiensi chip, penggunaan sistem pendingin yang lebih hemat air, pemanfaatan air daur ulang, pembangunan pusat data di wilayah dengan tekanan air rendah, serta transparansi perusahaan mengenai konsumsi air menjadi sejumlah langkah yang semakin penting.

Bagi masyarakat, persoalannya bukan berarti setiap prompt harus dihentikan.

Yang lebih penting adalah memastikan pertumbuhan AI tidak dilakukan dengan mengorbankan kebutuhan dasar manusia.

Sebab, di balik satu jawaban yang muncul dalam hitungan detik, ada infrastruktur fisik yang bekerja tanpa henti.

Dan ketika penggunaan AI mencapai skala miliaran permintaan, setetes air yang tampak kecil dapat berubah menjadi persoalan lingkungan dalam skala yang sangat besar.

Komentar