JurnalPatroliNews – Jakarta – Gelombang tinggi mencapai tiga meter yang menggulung perairan pantai utara (Pantura) Jawa dalam dua pekan terakhir telah melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Di Kota Semarang, ratusan perahu kini tampak berjajar mati mesin di sepanjang Kali Banger dan kawasan Tambak Lorok. Kondisi alam yang tidak bersahabat ini memaksa para nelayan untuk menggantung jaring sementara waktu demi menghindari risiko keselamatan di tengah laut.
Ketua DPW Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Jawa Tengah, Slamet Ari Nugroho, mengungkapkan bahwa setidaknya terdapat 973 nelayan di Kota Semarang yang terdampak langsung oleh situasi ini.
Bagi nelayan muda, adaptasi dilakukan dengan mencari pekerjaan sampingan di darat, mulai dari menjadi pengemudi ojek online hingga buruh bangunan.
Hal ini dilakukan karena memaksakan diri melaut saat cuaca ekstrem sering kali hanya membuang bahan bakar tanpa hasil tangkapan yang memadai, bahkan kerap kali jaring mereka hanya dipenuhi sampah laut.
Namun, tantangan lebih berat dihadapi oleh para nelayan senior yang berusia di atas 45 tahun. Terbatasnya keterampilan di bidang lain membuat mereka cenderung tetap bertahan di laut meski nyawa menjadi taruhannya.
Kelompok ini merasa sulit untuk beralih profesi di usia senja, sehingga sangat bergantung pada sisa tabungan atau bantuan pemerintah yang datang secara berkala.
Kelangkaan aktivitas melaut ini juga mulai berdampak pada stabilitas pangan di pasar lokal, di mana pasokan ikan segar menurun drastis dan berpotensi memicu kenaikan harga.
Meski pemerintah telah menyalurkan bantuan, KNTI Jawa Tengah mencatat adanya ketimpangan distribusi di mana jumlah bantuan yang tersedia belum mencukupi untuk seluruh nelayan yang terdata.
Ari berharap pemerintah dapat melakukan verifikasi data yang lebih akurat agar bantuan sosial dapat tersalurkan secara merata dan tepat sasaran bagi masyarakat pesisir yang sedang berjuang menyambung hidup.














