China Sampaikan Sikap atas Potensi Konflik Iran-AS

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah China angkat bicara terkait meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran setelah muncul laporan bahwa Washington tengah mempertimbangkan opsi “serangan terbatas” menjelang putaran baru perundingan nuklir.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyatakan Beijing memantau perkembangan situasi dengan serius. Dalam konferensi pers rutin, ia menekankan pentingnya semua pihak menahan diri.

“Eskalasi ketegangan di Timur Tengah tidak menguntungkan pihak mana pun,” ujarnya, seraya mendorong agar perbedaan diselesaikan melalui dialog, seperti dikutip dari Global Times, Rabu (25/2/2026).

Ketegangan meningkat setelah laporan menyebut Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan opsi serangan terbatas guna menekan Iran agar menyetujui tuntutan terkait program nuklirnya. Namun, keputusan final disebut belum diambil karena Washington masih menunggu proposal terbaru dari Teheran menjelang negosiasi lanjutan di Jenewa.

Di tengah spekulasi tersebut, Washington mulai mengambil langkah antisipatif. Departemen Luar Negeri memerintahkan diplomat non-esensial beserta keluarga mereka meninggalkan Kedutaan Besar AS di Beirut, Lebanon—langkah yang kerap dipandang sebagai sinyal potensi eskalasi militer di kawasan.

Militer AS juga meningkatkan kehadiran di Timur Tengah dengan mengerahkan dua kapal induk, yakni USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln, mendekati wilayah sekitar Iran, lengkap dengan dukungan jet tempur dan armada laut tambahan.

Sebagai respons, Garda Revolusi Iran menggelar latihan militer di wilayah selatan negara tersebut. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, turut memperingatkan bahwa setiap agresi baru berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas di kawasan.

China kembali menegaskan bahwa jalur diplomasi merupakan satu-satunya cara efektif untuk meredakan situasi dan mencegah konflik terbuka yang berisiko mengguncang stabilitas regional maupun global.