Danantara Dorong IBC-Avesta Kembangkan Baterai Masa Depan, Indonesia Bidik Penguasaan Teknologi Solid-State

JurnalPatroliNews | Brussels– Indonesia mulai memperluas strategi industri baterai dari sekadar pengolahan bahan baku menuju penguasaan teknologi generasi baru. Langkah tersebut ditandai dengan kerja sama strategis PT Industri Baterai Indonesia (Indonesia Battery Corporation/IBC) bersama perusahaan teknologi asal Belgia, Avesta Holding NV, untuk mengembangkan Solid-State Battery (SSB) dan Battery Energy Storage System (BESS).

Kesepakatan itu dituangkan dalam Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) pada Indonesia-EU Business Forum 2026 di Brussels, Belgia.

Penandatanganan dilakukan Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif bersama Chairman sekaligus Founder Avesta Holding, Prof. Dr. Eng. Noshin Omar. Acara tersebut disaksikan Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO BPI Danantara, Rosan P. Roeslani.

Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri baterai global, terutama melalui akses teknologi, pengembangan riset, dan peningkatan nilai tambah sumber daya mineral nasional.

Danantara Bidik Transfer Teknologi dari Eropa

Rosan P. Roeslani menilai kerja sama IBC dan Avesta merupakan langkah strategis untuk memperluas akses Indonesia terhadap investasi serta teknologi dari Eropa.

Menurutnya, transformasi industri mineral tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan penambangan dan pemurnian. Indonesia perlu bergerak lebih jauh menuju manufaktur berteknologi tinggi agar memiliki posisi lebih kuat dalam industri energi masa depan.

“Kemitraan ini menandai langkah proaktif Indonesia dalam melakukan diversifikasi akses investasi dan transfer teknologi dari Eropa guna mendorong transformasi industri mineral menuju manufaktur berteknologi tinggi,” ujar Rosan, sebagaimana dikutip Minggu (8/11/2026).

Keterlibatan Danantara dalam kerja sama ini memperlihatkan dorongan pemerintah agar potensi sumber daya mineral nasional dapat terhubung dengan pengembangan teknologi dan investasi industri bernilai tambah tinggi.

IBC dan Avesta Kembangkan Solid-State Battery

Salah satu fokus utama kerja sama adalah pengembangan teknologi Solid-State Battery (SSB) milik Avesta. Teknologi tersebut akan diarahkan dari tingkat kesiapan teknologi atau Technology Readiness Level (TRL) 7 menuju TRL 9, yakni tahap ketika teknologi telah siap diterapkan secara komersial.

Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif mengatakan, kemitraan tersebut memungkinkan Indonesia mempercepat penguasaan teknologi baterai generasi baru tanpa harus membangun seluruh proses riset dari awal.

Menurutnya, pengembangan teknologi SSB secara mandiri membutuhkan biaya penelitian besar dan waktu panjang. Karena itu, pemanfaatan pengalaman serta pengembangan teknologi yang telah dilakukan Avesta selama bertahun-tahun dinilai dapat mempercepat tahapan demonstrasi hingga komersialisasi.

“Mengembangkan teknologi SSB dari nol secara mandiri membutuhkan biaya riset yang masif dan waktu yang sangat lama. Kolaborasi dengan Avesta merupakan shortcut strategis. Avesta telah mengembangkan selama 15 tahun hingga skala pilot project, sehingga IBC dapat memangkas waktu pengembangan secara signifikan untuk langsung masuk ke fase demonstrasi lalu komersialisasi TRL 9,” jelas Aditya.

Dalam kesepakatan tersebut, kedua perusahaan juga menerapkan prinsip kepemilikan bersama atas hak kekayaan intelektual (HAKI) yang dihasilkan selama proyek berlangsung.

Skema tersebut menjadi penting karena penguasaan teknologi tidak hanya diukur dari kemampuan memproduksi baterai, tetapi juga dari kepemilikan pengetahuan, inovasi, dan hak atas teknologi yang dikembangkan.

Teknologi Baterai Generasi Baru dan Peluang Hilirisasi Nikel

Solid-State Battery menggunakan elektrolit padat sebagai pengganti elektrolit cair yang lazim digunakan pada sejumlah teknologi baterai saat ini.

Teknologi ini memiliki potensi meningkatkan aspek keselamatan, kepadatan energi, serta performa baterai. Jika berhasil dikembangkan dan diproduksi secara kompetitif, SSB dapat menjadi salah satu teknologi penting untuk kendaraan listrik dan berbagai kebutuhan penyimpanan energi.

Peluang tersebut juga berkaitan dengan strategi hilirisasi nikel Indonesia. Sejumlah rancangan baterai solid-state berpotensi menggunakan material katoda berbasis nikel, meskipun komposisi dan kebutuhan bahan bakunya bergantung pada desain teknologi yang dikembangkan.

Aditya menegaskan bahwa kerja sama tersebut diharapkan memperkuat kemampuan IBC dalam mengembangkan teknologi baterai berbasis nikel sekaligus meningkatkan kepemilikan HAKI nasional.

“Kerja sama ini merupakan upaya IBC dalam meningkatkan kepemilikan HAKI, terutama teknologi baru baterai berbasis nikel untuk menjaga relevansi hilirisasi nikel yang menjadi program pemerintah melalui MIND ID Group,” ungkapnya.

Dengan demikian, arah pengembangan industri baterai nasional tidak hanya mengejar kapasitas produksi, tetapi juga berupaya membangun kemampuan teknologi yang dapat meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.

Demo Plant Akan Dibangun di Indonesia

Sebagai tindak lanjut kerja sama, IBC dan Avesta merencanakan pembangunan fasilitas demonstrasi atau demo plant di Indonesia.

Fasilitas tersebut akan difokuskan pada optimalisasi sistem produksi dan penurunan biaya manufaktur. Tahapan ini diperlukan untuk menguji kesiapan teknologi sebelum memasuki produksi komersial berskala lebih besar.

Pengembangan SSB tersebut juga akan melengkapi kegiatan riset yang sebelumnya dilakukan IBC bersama sejumlah perguruan tinggi, termasuk Institut Teknologi Bandung dan Universitas Sebelas Maret.

Pemanfaatan teknologi baterai generasi baru itu diarahkan untuk mendukung kebutuhan ekosistem Motor Listrik Nasional (Molinas), sekaligus membuka peluang aplikasi pada sektor pertahanan, seperti kendaraan udara nirawak atau drone dan kapal cepat.

Namun, penerapan pada sektor-sektor tersebut tetap membutuhkan pengujian teknis, penyesuaian spesifikasi, serta pembuktian keandalan sesuai kebutuhan masing-masing pengguna.

BESS Dibidik untuk Pasar Indonesia dan Eropa

Selain pengembangan SSB, IBC dan Avesta juga menjajaki peluang investasi pada sektor Battery Energy Storage System (BESS).

BESS merupakan sistem penyimpanan energi berbasis baterai yang dapat menyimpan listrik untuk digunakan kembali ketika dibutuhkan. Teknologi ini memiliki peran penting dalam mendukung integrasi energi terbarukan, stabilitas pasokan listrik, dan pengelolaan beban jaringan.

Berbeda dengan pengembangan SSB yang berfokus pada riset dan peningkatan kesiapan teknologi, penjajakan BESS diarahkan pada peluang investasi manufaktur yang dapat melayani pasar domestik maupun Eropa.

Aditya menjelaskan bahwa kedua agenda tersebut dijalankan secara bersamaan dengan tujuan yang berbeda.

“Kerja sama SSB merupakan development dan pengembangan BESS merupakan investment yang kami laksanakan dalam satu waktu untuk pengembangan investasi manufaktur baterai yang dapat menjangkau pasar Eropa dan domestik,” tutup Aditya.

Kapasitas Industri Baterai Nasional Terus Berkembang

IBC didirikan pada 19 April 2021 dengan mandat mengintegrasikan rantai pasok industri baterai nasional, mulai dari pengolahan material, manufaktur sel baterai, hingga daur ulang.

Salah satu perkembangan penting adalah beroperasinya pabrik sel baterai PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat, yang dikembangkan melalui kerja sama IBC dengan konsorsium CATL-Brunp-Lygend dan Antam.

Pabrik tersebut mulai beroperasi pada Juli 2026 dengan kapasitas awal 6,9 gigawatt hour (GWh) per tahun untuk kebutuhan kendaraan listrik dan BESS. Kapasitasnya masih berpeluang ditingkatkan hingga sekitar 15 GWh melalui tahapan ekspansi berikutnya.

Kehadiran kerja sama dengan Avesta menambah dimensi baru dalam pengembangan industri baterai nasional. Jika pengembangan teknologi, transfer pengetahuan, dan rencana investasi dapat direalisasikan sesuai target, Indonesia berpeluang memperkuat posisinya bukan hanya sebagai pemasok bahan baku, melainkan juga sebagai pengembang teknologi dan produsen baterai berdaya saing internasional.

Tantangan berikutnya adalah memastikan kesepakatan kerja sama tersebut berkembang menjadi proyek nyata, menghasilkan kemampuan teknologi di dalam negeri, serta memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi industri nasional.

Komentar