Duh Kasihan, Kargo-kargo Gas Cair RI Dikembalikan Pembeli

 27 dibaca,  1 dibaca hari ini

 JurnalPatroliNews – Jakarta,– Nasib komoditas gas alam cair (LNG) Indonesia makin hari makin menggelisahkan. Para pembeli ramai-ramai mengembalikan pesanan.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengungkap kondisi ini di sela rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR RI. Dia mengaku, gas cair Indonesia susah laku. Bahkan banyak pembeli mengajukan renegosiasi kontrak penyaluran.

“Ini terjadi sangat memukul produksi dan lifting gas dikarenakan penurunan permintaan yang cukup besar. Kami mengalami beberapa pengembalian misalnya dari PLN, kargo-kargo yang khususnya dikonsumsi,” ungkapnya, Kamis (18/6/20).

Pernyataan tersebut disampaikan ketika menyampaikan paparan mengenai dampak Covid-19 dan penurunan harga minyak. Dengan pukulan tersebut, dia mengaku terjadi penurunan produktivitas operasional.

“Dikarenakan adanya penurunan aktivitas mobilisasi orang dan barang. Khususnya yang paling kita tidak bisa carikan jalan keluar adalah keterlambatan pabrikasi barang-barang yang di luar negeri maupun pengiriman ke Indonesia,” bebernya.

Dikatakan pula, terjadi penundaan planned shutdown di lapangan Banyu Urip dan Tangguh. Program kerja ulang dan perawatan sumur di CPI, PetroChina dan OSES tak luput dari dampak tersebut. Kegiatan P&A sumur di Conoco Phillips juga mengalami gangguan operasional.

“Kedua, penurunan keekonomian lapangan migas, lalu ketiga penurunan outlook lifting tahun 2020 dan menurunnya pemanfaatan gas,” bebernya.

Sebelumnya, Dwi Soetjipto sempat menjelaskan nasib LNG tahun ini sangat berat. Gas-gas alam cair dari blok-blok andalan di Indonesia sulit terjual.
Dari target 122 kargo, hingga April 2020 baru terjual 72 kargo.

“Ini sangat berat untuk para produsen,” ujarnya dalam konferensi pers bersama pimpinan redaksi media, Senin (15/6/2020).

Sudahlah susah menjualnya, harga di pasaran pun babak belur. “Dropnya di spot dapat US$ 2 dan kadang minus 0,4 dan 0,5. Pendapatan kita cuma US$ 1,5 per MMBTU,” ujarnya.

Berdasar grafik yang dipaparkan SKK, tren harga LNG saat ini di kisaran US$ 1,5 sampai US$ 1,9 per MMBTU atau setara Rp 21.000. Wow, lebih murah ketimbang es kopi kenangan mantan yang segelasnya Rp 24.000.

Kenapa bisa harga gas cair kita murah banget?
Dwi menjelaskan, saat ini produsen LNG di dunia makin banyak dan supply atau pasokan makin tinggi. Sementara, industri penggunas gas alam cair ini juga menurun karena covid-19.

“Tantangannya berat, tambah lagi ada kebutuhan yang menurun. Ada Sales Purchase Agreement (kontrak jual beli) yang menyatakan tidak akan mengambil dan mendiffer ke tahun berikutnya.”

Ini, kata dia, mendorong SKK untuk menawarkan LNG ke pasar spot yang harganya hancur-hancuran. Ia berharap kondisi ini bisa membaik jelang akhir tahun sehingga tidak terlalu suffer.

[cnbc]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *