Viral di Bali! Turis China Klaim Alami Pelecehan Saat Rekam Video di Lovina

JurnalPatroliNews | Bali — Pengalaman tidak menyenangkan dialami seorang wisatawan asal China saat membuat video outfit check di kawasan wisata Lovina, Desa Kalibukbuk, Kabupaten Buleleng, Bali.

Wisatawan yang diketahui memiliki akun Instagram @aurosa_a itu mengaku mengalami tindakan yang membuatnya merasa tidak nyaman hingga diduga mengarah pada pelecehan seksual.

Pengalaman tersebut kemudian dibagikan melalui media sosial dan menjadi perhatian publik.

Dalam video yang diunggah, wisatawan tersebut terlihat sedang merekam dirinya di kawasan Lovina. Di tengah aktivitas tersebut, seorang pria menghampirinya dan mengajaknya bersalaman.

Pria itu sempat mengucapkan selamat berlibur. Namun, menurut pengakuan korban, jabat tangan tersebut berlangsung cukup lama.

Situasi kemudian membuat korban merasa janggal. Ia mengaku baru menyadari bahwa tangannya diduga diarahkan ke bagian tubuh sensitif pria tersebut.

“Kenapa kamu memegang tanganku selama itu? Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kamu lakukan. Sampai akhirnya aku sadar, ternyata sudah terlambat,” tulis Aurosa dalam unggahannya.

Korban mengaku terpukul setelah kejadian tersebut. Ia bahkan menangis ketika dalam perjalanan kembali menuju tempat penginapan.

Menurut pengakuannya, peristiwa tersebut meninggalkan trauma selama berada di Bali.

Pemerintah Desa Kalibukbuk kemudian merespons kejadian tersebut setelah memperoleh informasi mengenai video yang beredar.

Kepala Desa Kalibukbuk I Ketut Suka menyampaikan permohonan maaf kepada wisatawan asal China tersebut atas ketidaknyamanan yang dialaminya.

Pihak desa juga menyebut telah mengambil langkah cepat setelah mengetahui identitas pria yang diduga terlibat.

Pria tersebut diketahui berinisial WS dan merupakan warga setempat.

“Kami sudah kirim permohonan maaf dari pihak desa ke akun wisatawannya itu atas ketidaknyamanan yang diterima. Kami kirim jawaban bahwa kami sudah mengambil tindakan cepat terkait informasi ini,” kata Ketut saat dikonfirmasi, Rabu (12/8).

Menurut Ketut, peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (8/8) pagi. Namun, pemerintah desa baru mengetahui kejadian tersebut sehari kemudian melalui informasi dari nelayan setempat.

Berdasarkan informasi awal yang diterima, WS diduga bertemu dengan wisatawan tersebut setelah aktivitas wisata melihat lumba-lumba.

Setelah memperoleh informasi mengenai dugaan pelecehan tersebut, pemerintah desa kemudian memanggil WS pada Senin (10/8).

Pihak desa melakukan pembinaan sekaligus meminta keluarga WS ikut melakukan pengawasan.

“Kami sudah bina, bahkan kami ancam kalau berulah lagi seperti ini, akan kami ambil tindakan tegas. Di desa kami sudah tangani dan kami sudah coba tanya kontak keluarganya,” ujar Ketut.

Pemerintah desa kemudian memperoleh kontak keluarga WS dan meminta keluarga ikut mengawasi perilaku yang bersangkutan.

Keluarga WS juga diminta membuat surat pernyataan di Kantor Desa Kalibukbuk.

Ketut mengatakan, hingga saat ini pemerintah desa belum membuat laporan polisi terkait kejadian tersebut.

Menurutnya, keputusan itu diambil karena keluarga WS dinilai telah menunjukkan itikad untuk ikut mengawasi yang bersangkutan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

“Sementara kami tidak buat laporan polisi karena sudah ada niat dan itikad baik dari keluarga yang ikut mengawasi gerak-geriknya agar tidak nantinya mengulangi hal seperti itu,” kata Suka.

Meski demikian, penanganan di tingkat desa tidak menghapus pentingnya proses hukum apabila korban memilih melaporkan kejadian tersebut kepada aparat kepolisian.

Kasus ini sekaligus menjadi perhatian terhadap aspek keamanan wisatawan di kawasan Lovina. Terlebih, kawasan tersebut merupakan salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Hingga kini, berdasarkan informasi yang tersedia, belum ada keterangan mengenai laporan polisi yang dibuat korban maupun hasil pemeriksaan aparat penegak hukum.

Karena itu, dugaan pelecehan tersebut masih perlu didalami berdasarkan keterangan korban, saksi, rekaman video, serta bukti lain yang relevan.

Komentar