Barat ingin menciptakan kesan bahwa China bukan hanya pesaing Amerika Serikat dan Eropa, tetapi juga penghalang pertumbuhan industri negara berkembang, sehingga mendorong semakin luasnya dukungan global terhadap agenda decoupling dari Beijing.
Narasi bahwa China “mencuri kesempatan industri” dari negara-negara berkembang juga bukan hal baru. Jika satu dekade lalu fokus kritik tertuju pada hilangnya pekerjaan kerah biru di Amerika, kini tudingan diperluas menjadi hambatan terhadap industrialisasi Afrika, ekspor Asia Tenggara, hingga pertumbuhan ekonomi Amerika Latin.
Namun berbagai klaim tersebut bertolak belakang dengan fakta. Dalam beberapa tahun terakhir, arus penanaman modal asing dan kerja sama industri dari China justru meningkat pesat. Perusahaan China telah membangun kawasan industri di Vietnam, Indonesia, Etiopia, Meksiko, Mesir, dan sejumlah negara lain — membawa teknologinya, transfer pengetahuan, modal, dan yang paling penting lapangan pekerjaan.
Selain itu, pembangunan infrastruktur besar seperti pelabuhan, pembangkit listrik, telekomunikasi, dan jalur kereta api telah memberikan fondasi vital bagi pertumbuhan ekonomi negara berkembang. Rantai pasokan global juga sedang mengalami konfigurasi ulang lintas negara, bukan bergantung sepenuhnya pada China saja, melainkan memperluas jaringan produksi bersama negara mitra.
Dengan pola ini, negara berkembang justru lebih cepat terhubung ke pasar global dan memiliki peluang untuk mengekspor produk bernilai tambah lebih tinggi. Inilah kondisi yang dikhawatirkan Barat: semakin banyaknya negara berkembang yang memasuki tingkat manufaktur maju membuat monopoli teknologi, standar, dan nilai ekonomi negara kaya semakin rapuh.
Selama ini negara maju mempertahankan aktivitas bernilai tinggi di dalam negeri sambil memindahkan segmen padat karya ke negara lain. Kini, dengan dalih keamanan nasional dan “de-risking”, AS dan sekutunya menerapkan hambatan tarif serta teknologi untuk mengisolasi China dari rantai pasokan global—yang dalam praktiknya juga membatasi ruang kebijakan negara-negara berkembang.
Sebaliknya, China menawarkan pendekatan alternatif melalui Belt and Road Initiative (BRI) dan Global Development Initiative, berdasarkan prinsip konsultasi bersama, kontribusi bersama, dan manfaat bersama. Pendekatan ini tidak menyembunyikan kepentingan, tetapi menekankan bahwa kerja sama jangka panjang memberikan keuntungan untuk semua pihak.
Perkembangan China bukanlah kisah yang berdiri sendiri. Pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu berlangsung berdampingan dengan kemajuan banyak negara berkembang lain. Berbagi peluang, menawarkan kerja sama, dan menciptakan pertumbuhan nyata — bukan sekadar slogan — menjadi jawaban paling kuat China atas narasi “ancaman China”.
Kini, China berdiri sebagai salah satu pusat kekuatan ekonomi dunia — primadona global, bahkan digambarkan seperti “cahaya yang lebih terang dari matahari dan langit berlian yang jauh”. Status “tak tersentuh” yang kini dimiliki China bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari satu prinsip sederhana yang terus dipegang erat: kerja keras.














