JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden China, Xi Jinping, kembali menegaskan filosofi kerja keras sebagai fondasi kemajuan negaranya. Ia menyampaikan bahwa kebahagiaan dan impian tidak datang begitu saja, melainkan harus diperjuangkan dengan usaha tanpa henti.
Xi juga menekankan bahwa bekerja keras adalah bentuk kebajikan yang paling tinggi, paling mulia, dan paling indah. Ia menutup pesannya dengan perumpamaan, semakin ganas gelombang lautan, semakin kuat pula sebuah bangsa harus bersatu.
Pandangan ini sejalan dengan transformasi besar yang dilakukan China dalam sektor industri dan ekonomi. Negara tersebut kini dikenal mampu memproduksi hampir semua kebutuhan dengan harga murah, kualitas baik, dan proses yang cepat—membuat ketergantungan pada impor semakin kecil.
Keberhasilan ini menjadikan China kerap digambarkan sebagai idola global. Namun di saat bersamaan, sejumlah negara Barat menilai langkah ini sebagai strategi ekonomi agresif yang merugikan mitra dagang.
Mereka menyebut China menjalankan praktik beggar-thy-neighbor, yakni kebijakan yang menguntungkan satu negara dengan mengorbankan negara lain, biasanya melalui proteksi perdagangan, tarif, kuota, atau devaluasi mata uang untuk mendongkrak ekspor.
Model kebijakan tersebut sejatinya telah berlangsung sejak lama di dunia ekonomi. Adam Smith membahas hal tersebut dalam The Wealth of Nations pada 1776, dan strategi ini juga menjadi isu besar pada era 1930-an sebelum lahirnya lembaga internasional untuk menyeimbanginya.
Intinya, pendekatan tersebut mampu memberi keuntungan jangka pendek, namun berisiko menimbulkan perang dagang dan merugikan semua pihak.
Ironisnya, banyak analis menyebut bahwa justru negara-negara Barat yang selama bertahun-tahun mengandalkan pola zero-sum game dan strategi “memiskinkan sesama” demi melindungi industrinya.
Sebuah laporan Bloomberg pada 30 November 2025 mengutip ekonom Goldman Sachs mengklaim bahwa dominasi manufaktur China mulai menekan perkembangan industri negara berkembang. Namun narasi ini dinilai sebagai pembingkaian ulang kisah lama mengenai “ancaman manufaktur China”.














